Perkenalan: “Nadir” karya Herta Müller

Oleh Tiya Hapitiawati

Saat pertama kali mengontak Penerbit Carl Hanser atas nama Moooi Pustaka dan menyatakan minat hendak mengakuisisi hak cipta kumpulan cerita Nadir karya Herta Müller, manajer akuisisi mereka untuk wilayah Asia menjawab surel saya seraya menyatakan keheranannya. Bukan heran oleh niat kami ingin mengakuisisi salah satu karya sang peraih Nobel Sastra 2009 itu, melainkan heran karena justru kami adalah penerbit Indonesia pertama yang mengontak mereka untuk mengakuisisi karya Herta Müller, 12 tahun setelah ia menerima Nobel. Beruntung negosiasi berjalan mulus hingga kami berhasil mengakuisisinya, dan kemudian menerjemahkan dan menerbitkannya.

Lahir pada 17 Agustus 1953, Herta Müller berasal dari sebuah desa di wilayah Banat Rumania. Banat adalah wilayah yang secara geografis berada di Eropa tengah dan saat ini terbagi menjadi tiga, yakni Banat Timur berada di wilayah barat Rumania, Banat Barat berada di wilayah timur laut Serbia, dan Banat Utara—yang merupakan wilayah terkecil—berada di antara wilayah tenggara Hongaria. Wilayah Banat Rumania, tempat asal Herta Müller, merupakan wilayah berbahasa Jerman dengan penduduk keturunan Jerman Swabia. Sang penulis berbahasa ibu Jerman dialek Swabia-Banat, sementara bahasa Rumania menjadi bahasa asing pertamanya yang ia pelajari saat di bangku sekolah. Khusus soal bahasa, Herta Müller kerap membahasnya dan mengaitkannya dengan identitas dan konsep tanah air dan tempat asal—namun tentu tak akan kita bahas di sini.

Kumpulan cerita Nadir kerap disebut sebagai bagian dari kesusastraan Rumania berbahasa Jerman—meski akhirnya lebih sering ditidakan daripada diiyakan. Diterbitkan pertama kali oleh penerbit Kriterion—penerbit Rumania untuk karya-karya berbahasa Jerman, Nadir menjadi karya Herta Müller pertama yang menjadikannya penulis terkenal dan diperhitungkan di negeri yang diperintah oleh rezim kediktatoran Ceaușescu kala itu. Awalnya, cerita-cerita pendek yang ada di dalamnya diterbitkan secara terpisah di surat kabar Neue Banater Zeitung, hingga akhirnya pada tahun 1982 dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku. Cerita berjudul “Nadir” diambil sebagai titik sentral dalam buku itu sekaligus menjadi judul buku dan merupakan cerita terpanjang dengan jumlah halaman lebih dari seratus halaman. Selain cerita yang berjudul sama dengan judul bukunya, ada delapan judul belas cerita pendek lain di dalamnya, yakni: “Pidato Pemakaman”, “Bak Mandi Swabia”, “Keluargaku”, “Pir Busuk”, “Tango Tirani”, “Jendela”, “Lelaki dengan Kotak Korek Api”, “Kronik Desa”, “Model Rambut dan Kumis ala Jerman”, “Bus Antardesa”, “Ibu, Ayah dan Si Kecil”, “Mei, Kala itu”, “Para Penyapu Jalan”, “Pendapat”, “Inge”, “Pak Wultschmann”, “Taman Hitam”, dan “Hari Kerja”.

Kumpulan cerita Nadir sarat dengan simbol. Sebagai contoh, mari kita lihat petikan kalimat terakhir dari bab “Nadir” berikut:

Dan aku mendengarkan katak Jerman Ibu di balik tidurku.

Katak menjadi simbol sentral dalam beberapa cerita di buku Nadir. Ia simbol dari karakter individu dan kolektif warga desa Banat Jerman-Rumania sebagai minoritas di negeri itu. Isi ceritanya sebagian besar menggambarkan sebuah desa dengan segala kebrutalan moral dan kekerasan khas orang desa yang pada akhirnya dimaklumi sebagai hal biasa saja, dipandang dari sudut pandang naif anak kecil. Segala kebrutalan maupun kekerasan tersebut bertemu dengan—sebagaimana yang disebut oleh pakar karya-karya Herta Müller, Otto Ekke (2017)—erosi budaya minoritas di bawah tekanan politik.

Membaca kumcer Nadir adalah soal membaca fragmen-fragmen ingatan masa lalu dengan sudut pandang seorang anak kecil di sebagian besar ceritanya, dengan alur tak menentu, eksperimen berbahasa, diksi yang puitis dan indah, permainan logika, satir di sana-sini, dan terutama, tentang refleksi atas realitas. Dari sisi linguistik, terdapat pergantian antara bentuk waktu lampau (präteritum) dan bentuk waktu saat ini (präsens), pergantian antara penggambaran kejadian-kejadian yang terjadi sekali waktu dan penggambaran situasi kondisi yang berlangsung terus-menerus. Soal ini, Otto Ekke (2017) menyebut bahwa tampaknya hal ini dilakukan bukan hanya untuk memperlihatkan kepasrahan penuh kesadaran atas posisi si aku sebagai tokoh utama dalam satu kurun waktu, melainkan juga sebagai pengungkapan langsung pengalaman seorang anak kecil demi tercapainya tujuan refleksi atas ingatan-ingatan masa lalu. Jika kita lihat lagi lebih jauh dalam teks, hal tersebut juga diperkuat oleh munculnya pengulangan-pengulangan kata atau frasa serta penggunaan struktur kalimat yang tak terlalu rumit.

Di dalam Nadir versi lengkap terbitan Penerbit Carl Hanser yang saya terjemahkan ini, terdapat empat bab cerita yang kembali dihadirkan dan dahulu sempat dihilangkan dalam versi terbitan Penerbit Rotbuch Berlin setelah mengambilalihnya dari Penerbit Kriterion Bukares. Keempat bab cerita tersebut yaitu “Mei Kala Itu”, “Pendapat”, “Inge”, dan “Pak Wultschmann”. Dengan kata lain, keempat cerita tersebut untuk pertama kalinya kembali diterjemahkan ke bahasa lain dan bahkan belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebab edisi bahasa Inggris diterjemahkan dari versi terbitan Penerbit Rotbuch. Bangga? Tentu saja!

Bagaimanapun, kehadiran resmi karya sang peraih Nobel Sastra 2009 di Indonesia sedikit banyak patut dirayakan. Semoga setelah Nadir, akan hadir pula karya-karya Herta Müller lainnya yang akan membuat kita mengenalnya lebih dalam dan semakin meyakini bahwa ia memang selayak itu pernah memperoleh Nobel Sastra.

Selamat membaca dan berkenalan!

Comments are closed here.

Pilih Bukunya
Pilih buku pilihan. Klik Beli Sekarang, atau Tambahkan ke Keranjang, untuk mencari dan menambah buku lain.
Langsung Pesan
Masukkan alamat dan pilih kurir. Harga dan ongkir dihitung, pesanan langsung terhubung ke WhatsApp.
Bayar dan Kirim
Bayar tagihannya dan kirim konfirmasi. Buku pilihanmu dikirim dari Yogya ke alamatmu.
Temukan kami di :

Pengiriman

Pembayaran

Butuh Bantuan ?

Keranjang Belanja

×

Ups, Belum ada barang di keranjang belanja Anda.

Belanja Sekarang !

Form Bantuan Whatsapp!

×